Cegah Kerusakan Alam di Daerah Aliran Sungai Melalui Kemitraan Lingkungan

Cegah Kerusakan Alam di Daerah Aliran Sungai Melalui Kemitraan Lingkungan

Malang, Metropol – Luas lahan kritis di Indonesia mencapai ± 24,3 juta Ha. Perubahan lahan prima menjadi lahan kritis yang terjadi di kawasan budidaya sekitar 100.000 Ha setiap tahun. Pemerintah melalui APBN hanya mampu melakukan rehabilitasi hutan seluas 500 ribu Ha/tahun.

Menteri LHK Siti Nurbaya dalam paparannya pada acara Kongres Sungai Indonesia II menjelaskan, bahwa Daerah Aliraan Sungai (DAS) harus dikelola dengan baik.

Menurutnya, ada dua klasifikasi DAS yang perlu diperhatikan. DAS yang rusak dan tidak berfungsi sebagaimana mestinya, DAS ini harus dipulihkan daya dukungnya.

“DAS yang masih berfungsi harus dipertahankan daya dukungnya,” terang Menteri Siti dalam paparannya dalam acara Kongres Sungai Indonesia II di Malang, Jumat (23/9).

Solusi yang sedang dikerjakan pemerintah adalah Kemitraan Lingkungan. Langkah-langkah yang telah dilakukan adalah kerjasama dengan berbagai pihak, penguatan regulasi terkait DAS, serta akses kelola hutan oleh Masyarakat melalui skema Hutan Kemasyarakatan, Hutan Desa, dan Hutan Tanaman Rakyat.

Tujuan dari pengelolaan DAS melalui Kemitraan Lingkungan ini adalah mewujudkan kepedulian dan partisipasi para pihak dalam pengelolaan DAS, terjaganya produktifitas hutan, mengoptimalkan kuantitas, kualitas dan kontinuitas tata air DAS agar dapat mencapai masyarakat yang sejahtera.

Kongres Sungai Indonesia II tahun 2016 diselenggarakan di Bendungan Selorejo, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur 23-26 September 2016.

Kongres Sungai Indonesia tahun ini mengangkat tema ‘Konsolidasi Kerja Tata Kelola Sumber Daya Air, Sungai dan Kawasan’. Ini merupakan penyelenggaraan yang kedua setelah sebelumnya Kongres Sungai Indonesia yang pertama tahun 2015 diselenggarakan di Serayu, Banjarnegara, Jawa Tengah dan menghasilkan Maklumat Serayu, yang menyatakan kesadaran pengelolaan sungai dan kawasan DAS yang rusak dan tercemar.

Kerusakan alam yang terjadi disebabkan kurangnya kesadaran masyarakat mengenai pentingnya manfaat sungai bagi kehidupan.

Kongres Sungai Indonesia II 2016 ini dibuka oleh Gubernur Jawa Timur, Soekarwo.

Turut hadir pula Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Basoeki Hadimoeljono, dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo.

(Suwondo/Humas LHK)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *