Dinilai Tidak Mampu, Kepala BNN Kota Kendari Harus Dicopot

Dinilai Tidak Mampu, Kepala BNN Kota Kendari Harus Dicopot

Korban narkoba di Kendari. (Ist).

Kendari, Metropol – Menyikapi perkembangan kasus penyalahgunaan obat di Kota Kendari, Presiden Pemuda Melawan Narkoba (PMN) Tamrin Barubu meminta agar Kepala BNN Pusat Komjen Budi Waseso segera mengevaluasi kinerja Kepala BNN Kota Kendari Dra. H. Murniaty. M, MPH., Apt.

Menurut Tamrin Barubu, evaluasi terhadap pejabat BNN di daerah mutlak dilakukan guna meningkatkan performa kinerja dari lembaga anti narkoba itu.

“Sangat prihatin dengan adanya kejadian ini, sebagai Pemuda Melawan Narkoba, sangat keras menyampaikan kepada BNN pusat copot pejabat yang tidak mampu melakukan pencegahan dan penanggulangannya,” ujar Tamrin kepada Metropol melalui Whatsappnya, Kamis (14/9).

Lanjut Tamrin, pencopotan terhadap pejabat yang tidak mampu juga merupakan suatu bentuk warning agar pejabat BNN di daerah senantiasa meningkatkan koordinasi dan komunikasi dengan semua stake holder yang ada.

“Apalagi menimbulkan korban nyawa karena kurangnya koordinasi dan komunikasi dengan pihak berwajib, itu harus dicopot,” tegas Tamrin.

Senada dengan itu, nitizen yang ada di Kota Kendari juga mempertanyakan kinerja BNN atas kejadian yang menyebabkan puluhan warga Kota Kendari dirawat di Rumah Sakit.

“Mana kerjanya BNN ini, mana BNN, itu pengaruh mumbul itu,” ujar nitizen pada video yang diunggah di medsos.

Nitizen juga meminta agar aparat menindak tegas pihak-pihak yang menyebarkan obat terlarang itu.

Sementara itu, Umar Bonte anggota DPRD Kota Kendari mengatakan peristiwa tersebut mengindikasikan bahwa Kota Kendari saat ini darurat narkoba. Oleh karena itu kata dia, semua pihak harus bertanggung jawab dan meningkatkan kewaspadaan atas peredaran dan penyalahgunaan obat di Kota Kendari.

“Tokoh masyarakat, tokoh agama, pemerintah mari kita bersama turun tangan agar anak kita tidak menjadi korban,” ujarnya.

Umar mengakui, pihaknya beserta semua stake holeder yang ada kecolongan atas adanya kasus tersebut.

“Kita semua kecolongan atas kejadian ini,” ujarnya.

Umar Bonte berharap agar BNN Kota Kendari, BPOM Kendari dan Dinkes Kota Kendari meningkatkan kinerjanya dalam melakukan tindakan terpadu mengawasi peredaran obat di Kota Kendari.

Sedangkan Kepala BNN Kota Kendari Dra. Hj Murniaty, M. MPH. Apt., mengatakan bahwa, yang dikonsumsi oleh puluhan warga kendari adalah mumbul (Somadril red) yang telah dicampur dengan obat lain.

“Ini Mumbul (tablet PCC) yang biasa diminum bersama pulphi, pongasi dan lain sebagainya yang bisa membuat orang teler,” ujarnya.

Lanjutnya, Mumbul (PCC/Somadril) adalah obat ilegal dan peredarannya telah dicabut sejak tahun 2014 lalu.

Dia menuturkan jumlah korban penyalahgunaan obat tersebut hingga kini telah mencapai 54 orang dengan korban meninggal dunia 1 orang.

Namun dia menampik jika pihaknya kebobolan dalam menjalankan perannya untuk upaya pencegahan peredaran gelap narkoba.

“Silahkan orang menilai, kami sudah berbusa-busa bekerja dan Allah tidak buta,” terangnya.

Dia juga menegaskan bahwa yang obat yang dikonsumsi puluhan warga Kota Kendari tersebut adalah hanya obat biasa dan bukan narkoba.

Untuk diketahui warga Kota Kendari pada Rabu (12/9) lalu dihebohkan dengan peristiwa penyalahgunaan obat oleh puluhan anak remaja.

Akibatnya puluhan warga harus menjalani perawatan intensif di RSJ Kendari dan satu lainnya meninggal dunia.

(M. Daksan)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *