Ditemui Awak Media, Kepala Humas RSUP Bahteramas “Melotot”

Ditemui Awak Media, Kepala Humas RSUP Bahteramas “Melotot”

IGD Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Bahteramas Sulawesi Tenggara.

Kendari, NewsMetropol - Kepala Humas Rumah Sakit Umum Provinsi (RSUP) Bahteramas Sulawesi Tenggara, Masyita  meradang saat ditemui awak media pada Selasa pagi (13/2). Padahal, kedatangan awak media ke kantornya untuk mengonfirmasi terkait dugaan penelantaran pasien di Rumah Sakit plat merah bertaraf international tersebut.

Awak media yang menyambangi ruangan wanita berhijab tersebut terlibat adu argumen karena mereka (jurnalis, red) dipaksa untuk mem-fotocopy kartu identitas pers mereka terlebih dahulu, padahal para jurnalis tersebut telah memperlihatkan kartu identitas pers mereka.

Masyita tetap ngotot menolak untuk memberikan komentar, jika para pewarta belum menyerahkan foto copy kartu tanda pengenal. Kondisi tersebut membuat awak media lebih memilih meninggalkan ruangan wanita setengah baya itu, ketimbang harus menuruti permintaan pihak rumah sakit tersebut.

“Ini rumah saya, saya tidak mau berkomentar, silahkan keluar. Pokoknya harus foto copy dulu id card-nya,” ucap Masyita dengan nada tinggi sembari memplototi para jurnalis.

Awak media berusaha berkompromi dengan Masyita dengan meminta agar kartu pengenal pers mereka difoto menggunakan kamera telefon pintarnya. Namun, Masyita justru enggan dan tetap menolak permintaan awak media tersebut. Bahkan, permintaan agar stafnya saja yang melakukan foto copy tanda pengenal itu juga ditolaknya.

“Tetap tidak bisa, silahkan foto copy dulu id cardnya,” kata Masyita.

Ardin Sardin, salah seorang jurnalis dari teropongsultra.id yang ikut menemui Kepala Humas tersebut mengatakan, pihak RSUP Bahteramas terkesan menghalang-halangi kerja jurnalis dengan memaksa para awak media untuk menyerahkan foto copy kartu identitas persnya.

“Saya heran dengan Kepala Humas RSUP Bahteramas ini, masa dia paksakan kami untuk foto copy id card. Kita suruh dia foto saja pakai kamera handphonenya, atau stafnya saja yang disuruh foto copy malah ditolak juga. Ini kan akal-akalan dia untuk menghalang-halangi tugas kami,” ungkap Ardin.

Tak hanya menolak memberikan pernyataan, Humas RSUP Bahteramas itu juga meminta agar rekaman wawancara orang tua pasien dengan para awak media segera dihapus.

“Waktu kami habis wawancara ibu pasien, seorang anggota Satpol PP perempuan yang bertugas di gedung Laika Waraka, menghampiri kami dan meminta agar rekaman kami dihapus, katanya itu permintaan dari Bu Masyita, seraya dia mengarahkan kami ketemu langsung dengan Humas itu,” imbuh Ardin.

Perlu diketahui, di dalam Pasal 4 ayat 1 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers disebutkan, bahwa kemerdekaan pers dijamin sebagai hak asasi warga negara. Selain itu, Undang-Undang tentang Pers ini juga memberi sanksi kepada mereka yang menghalang-halangi kerja wartawan.

Pasal 18 Undang-Undang tentang Pers menyatakan, “Setiap orang yang secara melawan hukum dengan sengaja melakukan tindakan yang berkaitan menghambat atau menghalangi pelaksanaan ketentuan Pasal 4 ayat 2 dan ayat 3 dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 tahun atau denda paling banyak Rp 500.000.000.”

(Ronal Fajar)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *