Investasi Budidaya Laut Berpotensi Pengembangan Poros Maritim

Investasi Budidaya Laut Berpotensi Pengembangan Poros Maritim

Jakarta, Metropol – Pengembangan budidaya laut atau dikenal dengan Marikultur terus dikembangkan. Didukung dengan potensi yang cukup besar, marikultur juga dinilai akan dapat berkontribusi banyak untuk mendorong Indonesia menjadi Poros Maritim Dunia. Saat ini potensi lahan marikultur Indonesia yang mencapai 4,58 juta ha, baru dimanfaatkan sekitar 2 %. Belum lagi prospek pengembangan usaha marikultur yang dapat dilakukan mulai wilayah garis pantai hingga ke area lepas pantai. Pengembangan marikultur sejalan dengan visi misi Kabinet Kerja untuk mendorong laut menjadi sumber ekonomi bangsa di masa depan dan menjadikan Indonesia sebagai poros maritim.dunia seperti yang pernah disampaikan oleh Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada saat mendampingi Kunjungan Kerja Komisi IV DPR RI di Kab. Pesisir Selatan, Sumatera Barat beberapa waktu lalu.

Panglima Tentara Nasional Indonesia (TNI) Jenderal Gatot Nurmantyo, baru-baru ini melakukan kunjungan kerja ke Maluku. Disela-sela kunjungan, Panglima TNI melakukan peninjauan ke Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon guna mengajak masyarakat Maluku berinvestasi di bidang budidaya laut, karena potensi lahan untuk mengembangkan usaha di bidang ini sangat besar di daerahnya.

“Masyarakat perlu diberikan contoh budidaya laut, karena tanpa melihat contoh yang ada masyarakat sulit, bahkan tidak mau berinvestasi,” kata Panglima TNI Gatot Nurmantyo, pada saat meninjau Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, di sela-sela kunjungan kerjanya, di Ambon.

Selain meninjau BPBL Ambon, Gatot juga meninjau sejumlah keramba ikan dan udang milik masyarakat di teluk Ambon, dan memberikan apresiasi. Karena air laut di teluk dalam Ambon tidak tercemar oleh industri apapun.

Menurut dia, dengan air laut yang tidak tercemar dan bersih bisa mengembangkan pembibitan udang, ikan kakap, ikan tuna dan ikan kerapu bebek, kerapu macan dan kerapu cantang. Sejalan dengan kebijakan Presiden Joko Widodo tentang Poros Maritim, yang tidak hanya pengembangan di permukaan tetapi di bawah juga harus dimaksimalkan.

Kebutuhan Ikan di Indonesia Timur Sangat Besar

Kepala Balai Perikanan Budidaya Laut Ambon, Nono Hartanto mengatakan, BPBL Ambon merupakan salah satu UPT Pusat Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, di Wilayah Timur Indonesia.

Pihaknya telah berhasil mengembangkan 14 jenis ikan hias laut, antara lain Banggai Cardinal Fish (Pterapagon kauderni), Mandarinfish (Synchiropus splendidus), Blue Damselfish (Chrysiptera cyanea), Yellow Damselfish (Pamacentrus amboinensis), Clown (Amphiprion ocellaris),

Selanjutnya, Clown Biak (A. percula), Clown Giro Pasir (A.clarkii), Clown Balong (Premnas biocubatus), Clown Balong Padang (P.epigrammata), Clown pink (A. perideraion), Clown orange/Giro pellet (A. sandarcinos), Clown Picasso (A. percula var. Picasso), Clown Snowflake (A. percula var. snowflake), Clown Platinum (A. percula var. platinum).

“Kami bisa melayani sebayak 250.000 ikan hias, selain melayani benih ikan untuk konsumsi. Karena itu, lingkungan budidaya laut harus tetap terjaga jangan sampai tercemar, kalau ini terjadi usaha budidaya laut bisa gagal,” katanya.

Nono mengatakan, pihaknya terus berinovasi teknologi budidaya, baik itu pembesarannya maupun pembenihan, dan siap mendampingi masyarakat yang berinvestasi budidaya dan ikan keramba, apalagi banyak sekali lokasi-lokasi budidaya di Maluku yang sangat potensial untuk dikembangkan.

“Kebutuhan benih ikan hias dan ikan konsumsi di Indonesia Timur sangat besar sekali, ini sangat luar biasa. Kami prediksi lebih dari dua juta per tahun, sementara produksi kami masih sangat terbatas,” ujarnya.

Perikanan Budidaya Selaras Dengan Tiga Pilar Pembangunan

Beberapa waktu lalu Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti juga pernah menyampaikan bahwa pembangunan perikanan budidaya didorong untuk selaras dengan tiga pilar pembangunan yang merupakan turunan dari Nawa Cita atau Visi Misi Presiden RI. Tiga pilar tersebut adalah Prosperity (Kesejahteraan), Sustainability (Keberlanjutan) dan Sovereignity (Kedaulatan). Menteri Susi memberikan contohnya yaitu budidaya rumput laut. Sebab budidaya rumput laut merupakan salah usaha budidaya yang tidak menimbulkan pencemaran, tidak perlu pakan dan obat, serta menggunakan teknologi yang sederhana. Disamping itu Rumput laut memiliki peluang sangat mudah untuk dikembangkan karena biaya produksinya murah dan dapat menyerap banyak tenaga kerja.

Perkembangan usaha budidaya laut saat ini cukup menggembirakan karena dalam penyediaan benih ikan, Pemerintah terus mendorong Balai Balai Benih Ikan (BBI) yang ada untuk memproduksi benih-benih yang unggul. Pemerintah juga terus melakukan pembinaan terhadap keberlangsungan produksi benih tersebut. Oleh karenanya, diharapkan para pembudidaya tidak perlu lagi membeli benih jauh-jauh di luar daerah. Apabila hal ini dapat teratasi maka produksi ikan akan dapat terus didorong dan pengembangan usaha budidaya ikan akan meningkat, yang pada akhirnya kesejahteraan pelaku usaha perikanan budidaya akan meningkat dan perekonomian daerah pun ikat berputar.

(Delly M)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *