KUMALA : Dunia Pendidikan di Kabupaten Lebak di Rundung Pilu

KUMALA : Dunia Pendidikan di Kabupaten Lebak di Rundung Pilu

Rofi Pardan, seorang anak difabel.   

Lebak, NewsMetropol – Wakil Ketua Umum KUMALA, Therry Ratu Buana, SE., mengatakan, dunia pendidikan di Kabupaten Lebak di rundung pilu.

Hal itu disampaikannya kepada NewsMetropol di Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Kamis (5/7).

Permasalah pendidikan di Kabupaten Lebak, disikapil oleh Kumpulan Mahasiswa Lebak (KUMALA) terkait adanya penolakan oleh salah satu sekolah umum yang ada di Rangkasbitung terhadap Rofi Pardan, seorang anak difabel yang akan mendaftar untuk melanjutkan sekolahnya.

Menurut Therry, ​berbicara pendidikan tentunya tidak lepas dari dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, menjadi satu gagasan bagi negara Indonesia di masa yang akan datang.

“Jika pada persoalan pendidikan saja sulit didapatkan bagi warga negara, maka sudah dapat dikatakan negara akan mengalami kisah kemunduran yang luar biasa di masa depan,” pungkasnya.

Therry mengatakan, pendidikan bukan proyek tersembunyi untuk para akademisi, pendidikan tiada lain untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa dan menjadi tumpuan Indonesia menjadi negara maju.

Dijelaskannya, bahwa hak atas pendidikan sudah diatur secara konstitusional dalam UUD’45 Pasal 31 ayat 1 yang menyatakan, bahwa setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan.

Selain itu, lanjutnya, alokasi anggaran sudah tertulis secara konstitusional dalam UUD’45 Pasal 31 ayat 4, bahwa negara memprioritaskan anggaran pendidikan sekurang-kurangnya 20% dari anggaran pendapatan dan belanja negara serta dari anggaran pendapatan dan belanja daerah untuk memenuhi kebutuhan penyelenggaraan pendidikan nasional.

“Dari landasan hukum diatas jelas bahwa persoalan pendidikan harus diperhatikan dengan serius sesuai yang diamanatkan dalam UUD’45,” tuturnya.

Dikatakan Therry kembali, terhadap kejadian tersebut KUMALA menyoroti dengan seksama kisah pilu yang dialami oleh Rofi Pardan (16) warga Rangkasbitung, Kabupaten Lebak yang ditolak beberapa sekolah dengan alasan yang sungguh tidak masuk akal yaitu keterbatasan fisik yang dialami oleh Rofi Pardan.

“Kami KUMALA sangat menyangkan sikap pihak sekolah yang menolak Rofi Pardan untuk melanjutkan pendidikan seutuhnya, ini bukan saja persoalan yang tidak mengindahkan amanat yang tertuang dalam UUD’45, namun juga menunjukan sikap yang tidak manusiawi,” katanya.

“Selain itu akan menjadi catatan penting bagi dunia pendidikan di Provinsi Banten, dalam hal ini Kabupaten Lebak terlebih moto “Lebak Cerdas” sering diucapkan oleh Bupati Lebak,” kata Therry.

Wakil Ketua Umum KUMALA itu juga berepesan untuk Bupati terpilih pada Pilkada 2018 yang telah melawan bumbung kosong, agar lebih serius meningkatkan pendidikan di Kabupaten Lebak untuk meningkatkan indeks pembangunan manusia yang berkualitas.

(Syarifudin)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *