Makna Keberhasilan ‘Operasi Mandala’ Bagi Masyarakat Salakan

Makna Keberhasilan ‘Operasi Mandala’ Bagi Masyarakat Salakan

Ahmad Budullah, jurnalis News Metropol liputan Sulteng saat mengunjungi Monumen Trikora Jayawijaya yang berdiri kokoh di puncak Bukit Kota Salakan.

Salakan, NewsMetropol – Acara penyambutan malam tahun baru 2017-2018 Kabupaten Banggai Kepulauan digelar di Lapangan Trikora Salakan, Ahad (31/12).

Pantauan NewsMetropol, segala persiapan telah siap dimana spanduk hiburan menyambut tahun baru yang dimeriahkan oleh artis Ibu Kota Neng Ratu dan Lola Semok tampak di beberapa titik kota Salakan dan Lapangan Trikora.

Kepala Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, Drs. Muchsin Sasia MM, menceritakan kronologis adanya Parasasti dan Monumen Trikora di Salakan.

Kata dia, Monumen Trikora Jayawijaya yang berdiri kokoh di puncak Bukit Kota Salakan setinggi 17 meter diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 12 Agustus 1995 lalu dan dibangun persis menghadap Teluk Ambelang dan Pulau Bakalan.

“Di kaki bukit, terdapat prasasti berisi pernyataan terima kasih dari masyarakat Tinangkung kepada Presiden Soeharto,” ujarnya.

Selain itu kata dia, tertulis pula kapal-kapal TNI-AL dan pasukan dari berbagai kesatuan yang dilibatkan dalam operasi militer.

“Untuk mencapai monumen berbentuk segitiga ini, pengunjung harus menapaki 214 anak tangga,” katanya lagi.

Dia juga mengatakan bahwa di sekitar tugu terdapat halaman berteras sebagai tempat mengenang peristiwa pada masa lalu, yaitu sebuah simbol perjuangan bangsa Indonesia dalam upaya merebut Irian Barat (Papua) dari Belanda.

Dia menuturkan, sejarah mencatat bahwa pada Agustus 1962, daerah terpencil dan sepi dari lalu lintas perhubungan laut nusantara ini seketika kedatangan kapal-kapal perang yang makin lama semakin bertambah jumlahnya.

Kata dia, Perairan Teluk Bakalan pun dipenuhi sejumlah kapal perang berbagai tipe, kapal selam, dan kapal niaga serta pasukan bersenjata RI yang sengaja dipusatkan di perairan Teluk Bakalan dalam rangka mempersiapkan pembebasan Irian Barat.

Alhasil di bawah pimpinan Mayjen Soeharto, dibentuklah konsentrasi pasukan kekuatan terbesar TNI dalam melaksanakan Operasi Jayawijaya Trikora (Tri Komando Rakyat) yang menjadi bagian dari Komando Mandala.

“Kota Salakan yang dipilih sebagai pusat konsentrasi pasukan ini menunjukkan bahwa wilayah ini strategis dalam pelaksanaan operasi militer,” terangnya.

“Sebagai simbol perjuangan, keberadaan Monumen Trikora menjadi ciri khas atau ikon Kota Salakan dan juga Kabupaten Banggai Kepulauan,” imbuhnya.

Muchsin Sasia menjelaskan bahwa kata Mandala diambil dari Bahasa Banggai,  yang mempunyak makna Sebelum bintang fajar.

“Sejarah mencatat Serangan fajar di bawah pimpinan Mayjen Soeharto, berhasil saat itu. Jadi kata Mandala yang menjadi icon nama-nama perusahaan dan ormas sebenarnya dari Bahasa  Banggai. Demikian juga kelahiran Tommy Soeharto bersamaan operasi Mandala tanggal 15 Juli 1962,” pungkas Muchsin.

(Ahmad Budullah)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *