Penadah Motor Curian dan Jual Beli STNK Dibekuk Polrestabes Surabaya

Penadah Motor Curian dan Jual Beli STNK Dibekuk Polrestabes Surabaya

Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Kompol I Dewa Gede Juliana saat konferensi pers, Rabu (6/12).

Surabaya, Metropol – Pria penadah sepeda motor bodong dan penjual STNK dibekuk Tim Anti Bandit (TAB) Unit Jatanras Satreskrim Polrestabes Surabaya, Rabu (6/12) kemarin.

Sebut saja Heri Setiawan, warga Dukuh Bulu Lontar itu ditangkap setelah Unit Jatanras melakukan pengembangan kasus atas tertangkapnya Andreyono (25), warga Jalan Petemon Kali, Surabaya yang sebelumnya sempat menjual sepeda motor curian kepada Heri.

Wakasat Reskrim Polrestabes Surabaya, Kompol I Dewa Gede Juliana menyatakan, praktek ilegal Heri yang diakuinya telah berjalan satu tahun, terkuak pada 30 Nopember 2017 lalu, dia diringkus setelah terbukti menjual STNK yang dibelinya secara online.

Tidak hanya menjual STNK (surat tanda nomor kendaraan) saja. Ternyata, Heri juga menjual motor hasil curian yang dibelinya, bahkan Heri menjual dua paket yaitu paket STNK+NoPol (Nomor Polisi) dan paket motor bodong+STNK.

Dari penggerebekan di rumah Heri itu, TAB Unit Jatanras berhasil menyita sejumlah barang bukti antara lain; sebuah motor Honda Beat hasil curian yang dibeli Heri; 9 lembar STNK yang dibeli Heri melalui media sosial (medsos); 13 plat nomor polisi; buku rekapan penjualan STNK, NoPol dan motor; sejumlah spare part motor serta tiga buah HP.

Alumnus AKPOL (Akademi Kepolisian) Tahun 2003 ini menambahkan, untuk STNK tersangka Heri membelinya dari sebuah grup jual beli motor di facebook dengan harga 100 ribu.

Kemudian untuk plat nomor Polisi, Heri mencetakkan sesuai dengan nomor Polisi yang ada di STNK. Kemudian, Heri menjual STNK dan plat NoPol itu dengan harga antara 200 hingga 500 ribu.

“Untuk motornya, tersangka membelinya langsung dari si pelaku pencurian atau perantara. Jika motor saja, bisa dijual tersangka minimal 2,5 Juta. Jika plus STNK dan plat NoPol, tarifnya naik antara 500 ribu hingga 1 Juta,” imbuh Kompol Dewa.

Sementara itu, Heri berdalih bahwa dirinya tidak mengenal siapa yang menjual STNK-STNK yang dibelinya dari grup facebook tersebut. Sebab dirinya melakukan transaksi melalui chat facebook, bertemu, bayar kemudian tidak berhubungan kembali.

“Saya juga kadang membelinya langsung kepada teman-teman yang menemukan STNK di jalan,” aku pria berkaca mata ini.

(Yud/Rin)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *