Peringati HANI 2018, Slank dan BNN Sosialisasikan Bahaya Narkoba

Peringati HANI 2018, Slank dan BNN Sosialisasikan Bahaya Narkoba

Bunda Iffet Sidharta, para personel SLANK dan dr. Hj.Aisah Dahlan.

Jakarta, NewsMetropol - Setiap tanggal 26 Juni, seluruh dunia memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) sebagai peringatan yang dimaknai untuk memperkuat aksi dan kerjasama secara global melawan gerusan peredaran narkoba di seluruh dunia.

Perungatan ini pun diselenggarakan untuk mengingatkan masyarakat agar menghundari dari penyalahgunaan narkoba, melawan penyalahgunaan obat-obatan dan penjualan obat secara ilegal.

Diketahui berdasarkan data dan hasil penelitian BNN dan Puslitkes UI pada tahun 2017, peredaran gelap narkoba dan korban penyalahgunaan narkoba di Indonesia terus meningkat sekitar 1.77 % atau 3,3 juta, dengan kerugian ekonomi dan sosial akibat narkoba mencapai Rp.84,7 Triliun, oleh karenanya saat ini Indonesia dalam keadaan darurat Narkoba.

Dalam rangka memperingati Hari Anti Narkotika Internasional tahun 2018, Unit Narkoba Rumah Sakit Bhayangkara Sespimma Lemdiklat Polri yang merupakan kompartemen Kedokteran Kepolisian (Dokpol) tempat rehabilitasi narkoba di institusi Kepolisian dan Bidang Kedokteran Kepolisian (Biddokpol) Pudokes Polri yang selama ini sudah bekerjasama dengan SLANK dan Yayasan Sahabat Rekan Sebaya melakukan rehabilitasi narkoba bagi para Slankers dan menggelar acara “Doa Untuk Bangsa” di Markas Besar Slank, Jl. Potlot III No.14 Duren Tiga, Jakarta Selatan, Rabu (27/6) kemarin.

Di acara tesebut hadir untuk memberi sambutan Ketua BNN yang diwakilkan Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Irjen Pol Drs. Dunan Ismail Isja, MM., Kepala Sekolah, para Staf dan Pimpinan Pertama Polri yang diwakilkan Kepala Sub Bagian Pengawas Internal Rumkit Bhayangkara Sespimma Lemdiklat Polri, Retnowati Misire, SH.

Tak ketinggalan  beberapa tamu undangan lainnya hadir,seperti l Kabag Humas BNN Wakasat Narkoba Polres Jakpus, Wakasat Narkoba Polres Jakarta Utara, Wakapiores Jaktim, Ditnarkoba Polda Metro, Direktur Komponen Masyarakat Deputi Rehabilitsi BNN Lido, RSKO Cibubur, Kementrian Kesehatan RI, Kementrian Sosial RI dan beberapa institusi panti rehabilitasi yang di Jakarta dan sekitarnya, serta para keluarga korban narkoba dan masyarakat peduli permasalahan narkoba.

Acara tersebut juga dimeriahkan dengan pertunjukan musik dari anak-anak binaan Program Rehabilitasi After Care dan Komunitas Cukup Gue di puncak acara SLANK membawakan beberapa lagunya seperti Ku Tak Bisa, Balikin dan Kemana Aja Lo?”.

Penyelenggaraan peringatan HANI 2018 ini juga didukung oleh Pulau Biru Production, Asosiasi Rehabilitasi Narkoba Indinesia (AIRIN), Yayasan Sahabat Rekan Sebaya dan Komunitas Cukup Gue yang ditutup dengan doa bersama para hadirin untuk perjuangan bangsa Indonesia agar terus mampu dan kuat melawan serta perang penyalahgunaan narkoba.

Selain doa bersama, acara diisi dengan berbagai pengalaman dan pemberian motivasi seputar pemulihan narkoba oleh Bunda Iffet Sidharta (Ibunda sekaligus Manager) dan SLANK (Kaka, Bimbin, Ivan, dan Ridho) yang di moderatori oleh dr. Hj.Aisah Dahlan.

Masing-masing personel SLANK bercerita bagaimana perjuangan diri mereka melawan gencarnya gerusan narkoba. Kaka SLANK bercerita, “dulu pengalaman saya mencoba dan  mencoba lagi. yang namanya manusia gagal berapa kali itu wajar,” ungkapnya.

Selain terus mencoba, lanjut Kaka, bahwa proses penyembuhan dari kecanduan juga berkat kegigihan Bunda Iffet dalam mendampingi, saat proses penyembuhann itu Bunda juga senantiasa melibatkan pihak-pihak lain.

“Dia mengobati lingkungannya dulu. Jika ingin menyembuhkan anaknya itu, maka yang harus disembuhkan adalah lingkungannya. Bunda tuh kontak kepolisian, kontak tetangga untuk kompak, minggu depan rehab anak saya. Tolong, kalau ada yang kabur, tangkap lagi,” beber Kakak.

Tentang pengalamannya di masa lalu, lanjutnya, “pokoknya lingkungan bersih dulu, baru Bunda rehabilitasi kami. Selagi kami melewati masa-masa kritis, ketika sudah tahu anaknya bisa bangun pagi, langsung kasih pelatihan lari keliling  Duren Tiga, nyanyi, diajak ke sini ke sana, suruh ngomong depan orang. Kami tidak dikasih kesempatan untuk melihat kebelakang,” cerita Kaka.

(Lulu)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *