Pewaris Tunggal Raja Lombok Klarifikasi Perang Topat

Pewaris Tunggal Raja Lombok Klarifikasi Perang Topat

Pewaris tunggal Raja Lombok, Anak Agung Biarsah Haruju Amla Nagantun, SH.

Mataram, Metropol – Anak Agung Biarsah Haruju Amla Nagantun, SH., menjelaskan, bahwa Perang Topat (Perang Ketupat) adalah tradisi adat di Lombok Barat untuk memohn hujan.

Menurut pewaris tunggal Raja Lombok tersebut, bahwa Perang Topat yang berada di Pura Lingsar Desa Lingsar, Kecamatan Lingsar, Kabupaten Lombok Barat ini tujuannya untuk memohon agar tanah Lombok menjadi subur dan makmur. Selain itu juga untuk mempererat tali persaudaraan antar masyarakat di Pulau Lombok.

“Intinya Perang Topat ini untuk memohn hujan,” kata Anak Agung Biarsah pada saat konfrensi pers dikediamannya di Puri Mayura Kecamatan Cakra Negara, Kota Mataram Lombok (NTB), Sabtu (9/12).

Ia juga menjelaskan, Pura Lingsar kesatuan dari Puri Taman dan Pura yang dibangun oleh Raja Lombok, Anak Agung Gede Ngurah pada tahun 1781 saka, untuk putra raja yang bernama Anak Agung Made Karang Asem.

“Teradisi tersebut masih dilanjutkan sampai saat ini oleh kami,” kata Anak Agung Biarsah.

Adapun rangkaian upacara dan teradisi yang rutin dilakukan adalah Pujawali dan Perang Ketupat, berasal dari kata Puja dan Wali berarti kembali.

“Jadi pengertian Pujawali yang sesungguhnya memuja kembali para dewa yang berstana atau berada di pura lingsar,” terangnya.

Lanjut Anak Agung Biarsah, Pujawali dilaksanakan setiap satu tahun sekali yakni pada bulan purnama ke enam di pura gaduh dan di pura kemalik.

Dia juga menjelaskan, bahwa Pura Kemalik Lingsar selain untuk memuja juga sebagai untuk prosesi ritual megat bebalik yang dilakukan oleh masyarakat Bali Lombok.

“Kalau bahasa Bali namanya disebut mapinton. Ritual tersebut dilakukan agar anak kecil yang baru lahir bisa masuk ke halaman pura,” tuturnya.

Ditambahkannya, proses megat bebalik dilakukan oleh pemangku sasak yang bertugas di pura kemalik lingsar dan bagi keturunan raja Lombok, serta masyarakat Lombok sudah menjadi tradisi dalam melaksanakan prosesi megat bebalik.

“Perlu saya garis bawahi perang ketupat itu bukan perang antara orang bali dengan suku sasak, tapi untuk menjalin tali persaudaraan serta memohon hujan kepada yang maha kuasa,” terangnya.

(Rahmat)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *