Sejarah Sidenreng Rappang

Sejarah Sidenreng Rappang

Artikel, Selasa 17 April 2018, Oleh : M. Saleh Mude, Sekjen PB KebugiS.

Jakarta, NewsMetropol – Dalam satu buku Panduan Maccera Arajang di Massepe Tahun 2006, dijelaskan bahwa Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang adalah Kerajaan kembar yang diperintah oleh dua orang Raja, kakak beradik.

Oleh karena itu, tidak ada batas yang tegas pemisah kedua wilayah Kerajaan tersebut.

Lontaraq hanya menggambarkan bahwa penduduk Kerajaan Sidenreng dan Rappang hanya dapat dibedakan pada waktu panen.

Yang mengangkut padinya ke utara, mereka adalah itulah rakyat Kerajaan Rappang, sedangkan yang mengangkut padinya ke selatan, mereka itulah rakyat Kerajaan Sidenreng.

Kedua raja pada kerajaan itu telah membuat ikrar bersatu, yaitu “Jika Rappang mati pagi, Sidenreng mati sore atau sebaliknya, Sidenreng mati pagi, Rappang mati sore.”

Satu kisah lain menceriterakan bahwa Kerajaan Sidenreng dan Kerajaan Rappang berasal dari Tomanurung (orang yang turun dari Khayangan), seperti halnya mitos raja-raja yang memerintah di berbagai kerajaan di Sulawesi Selatan.

Dikisahkan bahwa awalnya Sidenreng berasal dari sekelompok orang Sangalla di Tana Toraja yang meninggalkan daerahnya akibat rajanya yang bernama La Maddaremmeng seorang raja yang otoriter dan korup juga tidak lain adalah saudara dari mereka sendiri.

Rombongan itu terdiri 8 bersaudara, La Pasampoi, La Pababbari, dan kawan-kawan.

Mereka bukan asli Toraja, Sangalla, tetapi berasal dari Luwu karena Sangalla adalah pernah menjadi bagian dari kerajaan Payung Luwu.

Mereka berjalan beriringan dan berpegangan tangan, “Sidenreng-denreng” dan menemukan danau, tempat mengambil air bersih, yang belakangan disebut Danau Sidenreng.

Sementara kata Rappang, berasal dari kata “rappe,” berarti tersangkut atau terselamatkan.

Oleh karena itu, orang Sidenreng Rappang itu, adalah orang-orang yang selalu ingin bersatu, berjalan seiring bersama: rakyat dan pemerintahannya, suka berpegangan tangan dan menjaga silaturrahim karena yakin akan dilindungi dan dirahmati oleh Allah Swt. Bersyukurlah dan berbanggalah kita sebagai orang Sidrap.

Sidenreng Rappang dalam sejarahnya dimasukkan kelompok rumpun Ajatappareng: Sidrap, Pinrang, Enrekang, dan Parepare.

Posisi Kabupaten Sidenreng Rappang bertetangga dengan Kota Parepare, Kabupaten Pinrang, Kabupaten Enrekang, Kabupaten Wajo dan Kabupaten Soppeng.

Sidrap juga memiliki tradisi kerajaan yang disebut Addaowang atau Addatuang.

Inilah petikan ikrar Raja, Pemangku Adat dan Rakyat Sidenreng Rapang :

Berikrar Sang Raja

“Wahai semua rakyat Sidenreng Rappang

Ketahuilah bahwa semua aturan yang telah ditetapkan, berlaku untuk ibu, bapak atau anak, tidak ada pengecualian. Jika saya sebagai Raja melanggar adat, maka jangan diikuti ucapan dan tindakanku. Adat (dan hukum, peraturanlah) lah yang utama.”

Berikrar Pemangku Adat

“Saling mengingatkan dalam kekeliruan, saling mengangkat bila jatuh, saling menolong bila hanyut, hubungan kemanusiaan yang utama dan harus dijaga. Adat (dan hukum) harus membetulkankehendak dan tindakan sang Raja jika itu dapat merusak rakyatnya.”

Rakryat Berikrar

“Wahai Sang Raja. Takkan kami tolak yang engkau sukai, takkan kami sukai yang engkau tolak. Ibarat engkau adalah arus, maka kami batang yang hanyut. Jika lembah tempat sang Raja berpijak, maka lembah jua yang kami pagari. Jika bukit tempat sang Raja berpijak, maka bukit itu pula yang kami pagari. Perintahmu kami ikuti, sabdamu kami patuhi.”

Itulah bukti komitmen Raja atau pemimpin yang adil.

Itulah bukti pemangku adat (anggota DPRD) yang selalu mendahulukan rakyatnya.

Itulah bukti rakyat selalu patuh dan menghormati Raja (dan pemimpinnya) yang adil.

Selain itu, Sidrap juga memiliki raja yang pemberani yang bernama La So’ni Karaeng Massepe, Addatuang II, putra dari La Makkarakka yakni raja yang pernah membuat sejarah dan berhubungan baik dengan kerajaan Bone.

Ketika Bone diserang oleh kerajaan Gowa, Raja Bone La Tenri Tatta, Arung Palakka hampir mengalami kekalahan sehingga Raja Bone pun meminta bantuan ke Raja Sidenreng, La So’ni dan menang, tahun 1675 M.

Raja Bone, La Tenri Tatta berterima kasih dan memberi hadiah sebilah keris kepada La So’ni serta memberinya gelar Lamba Sidenreng.

Keris itu menjadi lambang keperkasaan Sidenreng dan Lamba Sidenreng menjadi Arajang, simbol pemersatu rakyat Sidenreng.

Sayang kisah sejarah indah hubungan Kerajaan Bone dan Sidenreng itu dinodai oleh fitnah.

La So’ni difitnah berselingkuh istri Raja Bone yang membuat Sang Raja murkah dan memerintahkan algojonya, Janggo Pance menghabisi La So’ni yang tidak berdaya membela diri.

Tetapi kebanaran itu datang walau terlambat, fitnah atas diri La So’ni terbongkar, algojo Janggo Pance pun dihukum pancung bersama tujuh turunannya.

Raja Bone, La Tenri Tatta kemudian mengantar kepala La So’ni ke Massepe untuk dimakamkan dan meminta maaf kepada rakyat Sidenreng.

Sidrap adalah Sidenreng Rappang, salah satu kabupaten di Provinsi Sulawesi Selatan, terletak 180 KM sebelah timur Kota Makassar.

Dapat ditempuh selama 2 jam dengan menggunakan pesawat dari Jakarta, kemudian diteruskan naik bus lancar selama 4 jam dari Bandara Hasanuddin ke Sidrap.

Sidrap adalah hamparan padi yang luas dan subur, lima kali panen dalam dua tahun sehingga banyak orang kaya dari Sidrap karena hasil padi dan beras.

Sidrap sekarang terdiri dari 11 Kecamatan dan tercatat telah memiliki delapan mantan Bupati Sidrap yakni :

  1. Almarhum Andi Sapada Mappangile, yang juga ayahanda dari Andi Tenrisau Sapada
  2. Almarhum Arifin Nu’mang, yang juga Ayah dari Agus, calon Gubernur Sulsel bernomor 2 yang sudah teruji, bersih dan berpengalaman.
  3. Almarhum Opu Sidik
  4. Almarhum M. Yunus Bandu
  5. Almarhum Andi Salipolo Palaloi
  6. Almarhum Andi Sunde Parawansa
  7. Almarhum Andi Ranggong dan wakilnya Musafir Kelana
  8. Rusdi Masse dan wakilnya Dollah Mando

Masyarakat Sidrap kini kembali akan memilih calon Bupatinya di bulan Juni tahun 2018 ini melalui pilkada serentak.

Masyarakat Sidrap berharap bakal terpilih pasangan pemimpin yang punya visi dan amanah, poleni tau ri tajengnge. Aamiin.

Orang Sidrap itu selalu hidup rukun dan damai, tidak pernah berkonflik.

Orang Sidrap juga selalu memelihara nilai-nilai seni budaya, dan adat istiadatnya.

Tradisi adat seperti prosesi mappabotting, maccera anak, turun ke sawah, panen, sampai menguburukan jenazah masih terpeliharadan sudah disentuh nilai-nilai Islam.

Sidrap memiliki warisan tokoh lagendaris yang tersohor, Nene’ Mallomo (La Pagala), seorang ahli hukum yang telah menjadi penasehat raja dan datu, dan telah menghukum mati anak kandungnya hanya karena mencuri.

“Hukum itu tidak beranak dan bercucu (iyero ade’e temmakeana-temmakeappo), kata Nene’ Mallomo.”

Prinsip hidup Nene’ Mallomo telah menjadiprasasti : “Resopa Temmangingngi Malomo Naletei Pammase Dewata” (hanya dengan kerja keras, rahmat Allah akan turun dari langit, menemani orang-orang yang ingin sukses).

Pemerintah Sidrap adalah yang pertama mimiliki kawasan khusus kantor pelayanan satu atap, one stop one service.

Jika jalan-jalan berlibur ke Sidrap, sejumlah menu kuliner akan mudah ditemui di sana seperti :Burung belibis (cawiwi), Cindolo na tape (cinta), Ikan mentah sasimi (lawa bale), Beppa: roti berre, Sanggara balanda, Jompo-jompo, Sokko bolong, Barongko, Bingka, Cuccuru tenne dan lain sebagainya.

Di Sidrap, juga akan terdapat 5 jenis tukang profesional klasik yakni : Panre bola (arsitek rumah panggung dari kayu), Panre ulaweng (tukang emas),Panre bessi (penempa besi-baja), Panre batu (pengukir batu nisan kuburan) dan Panre ada (ahli pantun kata-kata).

Sidrap juga memiliki tempat wisata yang wajib dikunjungi bila berada di Sidrap yakni : Taman Wisata di Puncak, Bila Riase, Kuliner burung Belibis (Cawiwi) di Lawawoi, Kuliner ikan mentah (lawak bale) dan Danau Sidenreng, tempat memancing ikan tawar.

Orang Sidrap memiliki kebiasaan Tudang Sipulung atau duduk berkumpul atau musyawarah besar, terutama ketika akan turun ke sawah atau setelah panen sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT yang diperkenalkan pertama kali oleh Bupati Arifin Nu’mang, tahun 1980.

Pengurus Besar Keluarga Bugis Sidenreng Rappang (KEBUGIS) didirikan, Sabtu, 18 April 2015 di Jakarta oleh passompe (perantau red) asal Sidrap.

Berikut Susunan Pengurus PB Kebugis :

Ketua Dewan Penasehatnya, Prof. Dr. Umar Shihab

Ketua Dewan Pembina, Mohammad Alwi Hamu, Staf Khusus Wakil Presiden

Ketua Umum, Inspektur Jenderal Polisi (Purn) Dr. Muhammad Said Saile, salah seorang pengajar di Lemhannas. (*)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *