Seminar Nasional Universitas Mpu Tantular Gelar, Dilanjutkan Deklarasi Kampus Bhinneka Tunggal Ika

Seminar Nasional Universitas Mpu Tantular Gelar, Dilanjutkan Deklarasi Kampus Bhinneka Tunggal Ika

Pembacaan Deklarasi Kampus Bhinneka Tunggal Ika oleh Rektor, Dr. Ir. Mangasi Panjaitan, ME

Jakarta, Metropol – Universitas Mpu Tantular (UMT), Jakarta menggelar Seminar Nasional bertajuk “Mengaktualisasikan Kembali Bhinneka Tunggal Ika Sebagai Jatidiri Bangsa Indonesia”, Rabu (12/7) lalu, di Aula Hiobadja, Lt. 8 Kampus Universitas Mpu Tantular, Jl. Cipinang Besar No. 2, Cipinang, Jakarta Timur.

Dipilihnya tema Bhinneka Tunggal Ika, antara lain menjawab maraknya radikalisme dan isu khilafah, yang ingin menggugat ideologi Negara, Pancasila. Selain itu, tokoh pujangga Mpu Tantular yang memunculkan nama Bhinneka Tunggal Ika dalam buku Sutasoma, ingin sekaligus diteguhkan di kampus Universitas Mpu Tantular ini.

Sebab itu, Seminar Nasional dengan Keynote Speaker, Ketua Yayasan Budi Murni Jakarta (yang menaungi Universitas Mpu Tantular), Budi P. Sinambela, BBA, mengulas kembali kisah munculnya kata Bhinneka Tunggal Ika pertama kali, di kitab Sutasoma. Nama besar Mpu Tantular pula yang menjadi inspirasi pendirian Universitas Mpu Tantular pada tahun 1984, yang digawangi Prof. DR. Kanjeng Raden Tumenggung (KRT waktu itu) Tarnama Sinambela Kusumonagoro, bersama partnernya Dr. M.O Tambunan, Jasudin Panjaitan dan beberapa lainnya.

Semboyan Bhineka Tunggal Ika tersebut dapat ditemukan dalam kitab Sutasoma yang ditulis oleh Mpu Tantular pada abad XIV pada masa Kerajaan Majapahit. Didalam kitab sutasoma tersebut Mpu Tantular menuliskan kalimat yang intinya, bahwa agama Buddha dan Siwa (Hindu) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai-nilai kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belah, tetapi satu jua, artinya tak ada dharma yang mendua.

Sementara untuk mengupas Term of Reference (TOR), narasumber yang diundang adalah Prof. Dr. Yudi Latif, Ketua Unit Kerja Presiden, Bidang Pembinaan Ideologi Pancasila, dan Yenni Wahid, sebagai Aktivis Kebhinnekaan/ Direktur Wahid Institute.

Acara diawali upacara Nasional dengan menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, dilanjutkan hening cipta dan pembacaan Teks Pancasila oleh Dekan Fakultas Maritim, Alfais Amin, S.Sos, MM.PIA. Selanjutnya, Ketua Panitia, Dr. Rr. Dijan Widijowati, SH, MH menyampaikan laporannya, dilanjutkan sambutan Rektor Universitas Mpu Tantular, Dr. Ir. Mangasi Panjaitan, ME.

Memasuki sesi seminar, moderator Bambang Suroso, SH, MH mengundang tampil Dr. Anas Saidi, Deputi I Bidang Pengkajian dan Materi Unit Kerja Presiden- Pembinaan Ideologi Pancasila (UKP PIP) sebagai pengganti narasumber Prof. Dr. Yudi Latif. Sedangkan Yenni Wahid, digantikan oleh Dr. Ngatawi Al-Zastrouw, Sosiolog dan Budayawan NU dan Dosen Pasca Sarjana IAIN Yogyakarta, yang juga dulu dikenal sebagai jurubicara pribadi Alm. Presiden Gus Dur.

Dalam paparannya, Anas Saidi mengatakan, enam bulan terakhir berkembang politik primordialisme, yang bisa menimbulkan perpecahan.

“Sebab mencoba-coba mengganti ideologi, itu sudah tergolong subversi ideologi. Sebab Indonesia, bukan negara agama,” tandasnya.

Menurutnya, siapapun yang ingin menentang ideologi Negara, patut diambil tindakan keras. Seperti salah satunya ormas HTI, yang tidak mengakui Pancasila sebagai dasar negara.

Sementara itu, Zastrouw mengatakan, sejak dulu, Nusantara itu sudah kodratnya beragam.

“Beragam suku, agama, ras, dengan segala latar belakangnya. Oleh sebab itu, siapapun harus menerimanya. Tidak bisa yang satu menindas yang lain, yang satu menyakiti lainnya,” bebernya.

Perihal Universitas Mpu Tantular ingin menjadikan kampus Bhinneka Tunggal Ika sebagai Pusat Studi Kajian Kebhinnekaan, Zastrow sangat mendukung.

“Saya sangat mendukung, apabila Universitas Mpu Tantular ingin mendeklarasikan kampus ini sebagai Kampus Bhinneka Tunggal Ika, dan membuat Pusat Studi Kebhinnekaan. Namun harus serius mengkaji kitab Sutasoma yang berjilid-jilid itu,” tandasnya.

Pemaparan kedua narasumber dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab. Para mahasiswa cukup antusias menanyakan berbagai hal yang dijelaskan.

Usai sesi seminar, acara dilanjutkan dengan pembacaan Deklarasi Kampus Bhinneka Tunggal Ika-Universitas Mpu Tantular, oleh Rektor, Mangasi Panjaitan. Pemukulan gong dilakukan Ketua Yayasan, Budi P. Sinambela sebagai pertanda diresmikannya nama kampus tersebut.

Prosesi deklarasi dilanjutkan dengan membentangkan spanduk ‘Kampus Bhinneka Tunggal Ika-Universitas Mpu Tantular’ oleh para mahasiswa, dan disentak bunyi party poppers (tembakan selebration kertas) keatas. Disambut langsung lagu ‘Kebyar-kebyar’ oleh Danny PH Siagian, SE, MM, Sekretaris Panitia.

Suasana cukup semarak dan dinamik, yang disaksikan sekitar 200-an peserta, antara lain terdiri dari: Prof. Dr. Payaman Simanjuntak, Guru Besar Ilmu Manajemen, Warek Bid. Kerjasama Ubhara Jakarta, Diah Ayu Permatasari, ST, SIP, M.IR, Monang Sitorus (mantan Bupati Tobasa), jajaran Yayasan Budi Murni Jakarta, dan Universitas Mpu Tantular, dar: BPH, Rektorat, Dekanat, Struktural, hingga para mahasiswa, serta dari unsur sekolah SMA wilayah Jakarta Timur dan Bekasi, ormas luar kampus, tokoh masyarakat, tokoh agama, undangan dari kampus di Jakarta dan Bekasi, dan undangan dari unsur lainnya.

Setelah itu, penyerahan plakat kepada pembicara oleh Bendahara Yayasan, Dewi Christina Sitorus, SE dan Rektor. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin Wakil Rektor III, Suyitno, SE, MM.

Diketahui, Universitas Mpu Tantular, Jakarta berdiri tahun 1984. Hingga kini, Kampus Bhinneka Tunggal Ika ini memiliki 7 (tujuh) fakultas yaitu: Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, Fakultas Teknik Sipil & Perencanaan, Fakultas Maritim, Fakultas Teknologi dan Informatika, Fakultas Teknologi Industri, Fakultas Ilmu Konunikasi, serta Program Pascasarjana untuk Prodi Manajemen dan Ilmu Hukum.

(Barly/DANS)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *