Tak Ada Solusi Pekerja Tetap Segel Pabrik Pengolahan Batu

Tak Ada Solusi Pekerja  Tetap Segel Pabrik Pengolahan Batu

Kendari, Metropol. Pertemuan antara pekerja dengan manajemen PT Hofmen Energi Perkasa (HEP), akhirnya tidak membuahkan hasil. Pertemuan pada hari Senin 15 Desember 2014 tersebut di gelar di Kantor Proyek PT HEP Kelurahan Tobimeita Kelurahan Abeli Kota Kendari dalam rangka menyikapi tuntutan pekerja yang memboikot aktifitas perusahaan.

Men u r u t warg a sek i t a r, perusahaan yang bergerak dibidang pengolah batu (creser) tersebut lumpuh tidak beroperasi sejak pekan lalu. Tidak adanya solusi yang dilahirkan karena pihak perusahaan tidak dihadiri oleh Manager (Priono), ataupun Komisaris PT HEP (Riki). Sehingga sejumlah tuntutan pekerja tidak dapat diselesaikan pada saat itu. Pihak perusahaan saat itu hanya mendelegasikan kepada Mucsin yang sebelumnya adalah Manager di PT HEP proyek Tobimeita.

Peker ja yang s a a t i tu h ad i r pada pertemuan m e n y a t a k a n k e k e s a l a n n y a . M e r e k a t i d a k mendapatkan upah yang memadai, sementara beban dan waktu kerja s a n g a t t i n g g i . “Kami masuk kerja jam 8, pulang jam 6 istirahat hanya satu jam,” kata Hariono Kepada Metropol.

Hariono mengungkapkan, upah yang diterimanya sebagai cheker (pengecek) adalah Rp. 1,8 juta sebulan, namun sudah tidak dihitung lembur. Senada dengan Ajumain salah seorang pekerja menyatakan kekesalannya, upahnya harus dipotong dengan uang makan sementara dirinya tidak pernah makan di kantin perusahaan. Dia juga menyeselkan tindakan sang manager (Priono, red), yang tidak memiliki rasa kepekaan terhadap pekerjanya.

“Pekerja yang sudah 2 tahun bekerja tidak pernah diangkat jadi karyawan tetap. Sebaliknya yang baru datang langsung jadi karyawan,” kata Ajumain dengan kesal.

Begitu pula dengan Abdurrahman y a n g s a n g a t m e n y e s a l k a n kepemimpinan Priono yang terkesan pilih kasih dan otoriter. “Dia bilang silakan lapor dimana saja, dan saya akan bayar tiga puluh juta kalau ada yang bisa tutup perusahaan ini,” katanya menirukan ucapan Priono.

Saat itu semua pekerja sepakat dan menginginkan manager harus diganti. “Kami inginkan Priono harus diganti,” kata pekerja kompak. Sementara itu Mucsin yang mewakili pihak perusahaan menolak pekerjanya masih ada yang statusnya kontrak.

“Semuanya sudah berstatus karyawan,” kata Mucsin. Tidak p u n y a k e w e n a n g a n u n t u k mengganti manager. Namun dirinya menyanggupi semua tuntutan pekerja akan diteruskan kepada pengambil kebijakan. “Saya akan menyampaikan ini kepada pimpinan di Jakarta,” Kata Mucsin lagi.

Sementara itu Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum (FH) Universitas Halu Oleo (UHO) menyatakan, akan senantiasa mendamp ingi peker ja un tuk mendapatkan hak-haknya. Hasimin Kantolalo kepada Media ini juga menyesalkan ketidak hadiran direksi maupun komisaris PT HEP.

” Mereka tidak gentle mengahadapi pekerjanya. Dirinya juga berharap perusahaan tidak berlaku diskriminatif kepada pekerja dan kepemimpinan Priono selaku manager dievaluasi. “Kami akan melakukan upaya hukum bersama masyarakat dan karyawan dan bila tidak disahuti ditutup operasi itu perusahaan,” tegas Ketua BEM FH UHO tersebut. (Daksan)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *