Undang Tokoh Daerah, IKA UNHAS Belanda dan PPIG Bahas Kontribusi Untuk Indonesia

Undang Tokoh Daerah, IKA UNHAS Belanda dan PPIG Bahas Kontribusi Untuk Indonesia

Bupati Bantaeng Prof. Nurdin Abdullah dan Ketua Dewan Riset Prov. Sulsel, Prof. Wasir Thalib hadir sebagai pembicara dalam forum diskusi bertajuk: Indonesia Science Cafe (ISC) yang diselenggarakan oleh IKA UNHAS Belanda bekerjasama PPI Groningendi.

Belanda, Metropol – Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Universitas Hasanuddin (UNHAS) Belanda bekerjasama dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia Groningen (PPIG) mengundang sejumlah Tokoh Daerah yang berhasil di bidangnya untuk membahas pembangunan Indonesia. Tokoh Daerah yang diundang tersebut adalah Bupati Bantaeng Prof. Dr. Ir. H.M. Nurdin Abdullah, M.Agr dan Prof. Dr. H. M. Wasir Thalib, M.S. Kedua Tokoh tersebut diundang untuk menjadi pembicara dalam sebuah forum diskusi bertajuk : Indonesia Science Cafe (ISC) dengan tema “Membangun Sinergitas Perguruan Tinggi dan Pemerintah Daerah; Peluang dan Tantangan” yang digelar di Belanda, pada Minggu (02/04) lalu.

Ketua IKA UNHAS Belanda, Amalia Mulia Utami mengatakan, Bupati Bantaeng diundang karena keberhasilannya membangun Kabupaten Bantaeng yang telah mendapat pengakuan publik baik di Bantaeng, Sulawesi Selatan maupun di tingkat nasional. “Dengan terobosannya dalam berbagai sektor termasuk di dalamnya membangun kemitraan,” ujar Amalia.

Kata dia, Prof Nurdin sebagai kepala daerah dari kalangan akademisi dan praktisi tentunya dapat berbicara banyak dan berbagi pengalaman. “Dan inilah yang kita mau dengar secara langsung,” ujarnya lagi.

Dalam kacamata IKA UNHAS Belanda, Bupati Bantaeng telah berhasil membangun sebuah sistem pemerintahan yang baik, Sehingga siapapun yang memimpin sepanjang sistem yang dibangun tetap dijalankan maka Bantaeng akan tetap maju bahkan lebih berkembang kedepannya.

Sementara itu, pandangan IKA UNHAS terhadap Prof. Dr. H.M. Wasir Talib, MS, adalah karena kapasitas Prof Wasir sebagai  Ketua Dewan Riset Provinsi Sulawesi Selatan. “Yang tentunya bisa berbicara tentang bentuk dan proses kerjasama yang telah dan sedang dijalankan antara pemerintah dan perguruan tinggi, termasuk tantangan yang dihadapi dalam proses tersebut,” ujar Mahasiswa yang sementara menempuh pendidikan S3 (Ph.D) di University of Amsterdam itu.

Amalia menyebutkan, sebagai pembicara kedua Prof Wasir memaparkan empat kategori negara maju, mulai dari kriteria negara paling maju sampai negara paling terbelakang. “Intinya bahwa dari berbagai variabel penentu suatu negara bisa maju atau tidak sangat ditentukan oleh sumber daya manusianya,” imbuhnya.

Amalia menambahkan, sumber daya manusia yang bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya oleh aparat pemerintah mulai dari pusat sampai ke daerah, ataupun sumber daya manusia yang bisa bersinergi baik secara individu, kelompok ataupun dalam hubungannya dengan pemerintah merupakan variebel penentu majunya suatu negara. “Namun, tidak banyak daerah yang berhasil memanfaatkan para tenaga ahli atau pakar yang kita miliki, selain itu anggaran yang dialokasikan untuk penelitian dan pengembangan masih tergolong minim,” terangnya.

Sedangkan Duta Besar RI untuk Kerajaan Belanda I Gusti Agung Wisaka Puja yang turut hadir membuka acara tersebut berharap agar anak muda yang sementara menempuh pendidikan di Belanda nantinya bisa kembali ke tanah air dan bisa membangun bangsa. “Harapan saya kepada  para peserta yang hadir bisa berperan aktif dalam mewujudkan Indonesia Incorporate yang mana semangatnya bersumber dari anak muda. Hal ini hanya bisa dibangun dan terjawab karena ketika kalian semua mampu bersinergi, punya jiwa competitiveness seperti orang Jepang yang menganut istilah “ichiban” atau “be number one,” harap Dubes.

Sebagaimana diketahui kegiatan Indonesia Science Cafe (ISC) ini diinisiasi oleh Divisi Ilmiah dan Kajian Strategis PPI Groningen Belanda yang diketuai oleh Anak Muhammad Yaqoub. ISC selama ini rutin melakukan kajian dan diskusi terkait permasalahan-permasalahan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini. Menurut Anak Muhammad Yaqoub, PPI Groningen merasa berkewajiban untuk berkontribusi kepada bangsa Indonesia yang bisa dimulai dengan membuka froum diskusi ilmiah yang dikemas secara santai namun tetap dibalut suasana akademik untuk bersama-sama membahas kontribusi apa yang bisa diberikan kepada bangsa Indonesia. “Harapannya melalui forum diskusi yang rutin mereka lakukan ini nantinya akan lahir sebuah rekomendasi sebagai langkah awal dari kontribusi terhadap bangsa Indonesia,” jelasnya.

Menurut Ketua Panitia Muhamad Akbar, forum ini dihadiri oleh 100 orang peserta dari kalangan mahasiswa dengan berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Lebih dari separuh jumlah peserta yang hadir merupakan mahasiswa yang saat ini sedang menempuh studi di jenjang doktoral.

Kata dia, kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari hasil analisis kebijakan yang dilakukan guna mengoptimalkan kerjasama antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah. “Padahal pembangunan nasional bisa tercapai jika pembangunan di daerah dapat terlaksana dengan baik. Juga dengan adanya sinergitas antara pemerintah dan kalangan intelektual (akademisi red),” pungkas Muhammad Akbar yang juga Alumni UNHAS.

 (Tim Metropol)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *