Wujudkan Niat Anda Berhaji Dengan Dua Ribu Wisata

Wujudkan Niat Anda Berhaji Dengan Dua Ribu Wisata

Direktur Utama PT Dua Ribu Wisata, H. Muhammad Ja’far bersama isterinya Hj. Evie Asyeni Ja’far. (Foto : MS/MP ).

Makkah, Metropol – H. Muhammad Ja’far Mmuhammadiah mengatakan, dirinya memutuskan mendirikan perusahaan travel dan penyelenggara umrah dan haji karena merasa sudah memiliki ilmu dan pengalaman belajar selama tujuh tahun di Kota Kairo, Mesir.

“Dan juga pernah bekerja di divisi umrah dan haji beberapa perusahaan milik orang lain,” ujar Ja’far, di Mina, Jumat (1/9).

Sebagaiamana diketahui Tokoh Utama di balik pendirian dan pengelolaan PT Dua Ribu Wisata adalah H. Muhammad Ja’far Mmuhammadiah.

Dia adalah kelahiran Sidrap, Sulawesi Selatan pada 17 September 1963 lalu. Pria ini mengenyam pendidikan dasarnya di SDN No. 1 Arawa, Kecamatan Watangpulu. Di masa kanak-kanak, dikampungnya di Bola Eppae – Uluale dia akrab disapa Lajapareng.

Kemudian dilanjutkan SMP (Tsanawiyah) dan hingga tamat SMA (Aliyah) pada tahun 1983 di Pesantren Al Urwatul Wutsqa, Benteng, Kabupaten Sidenremg Rappang (Sidrap).

Menyadari dan mengejar impiannya memahami Islam secara baik, menjadi pendorong M. Ja’far muda berangkat ke Kairo di Universitas Al Azhar untuk belajar di fakultas Syariah Islamiyah, tahun 1984.

Sebagai mahasiswa Syariah, Ja’far memiliki bakat olahraga, sepak bola yang baik, yakni sebagai penjaga gawang. Di berbagai kompetisi, Ja’far selalu menjadi Kiper pilihan utama, dimulai pertandingan antar-klub asal Indonesia, lalu antar-negara-negara Asean, termasuk antar-benua misalnya perwakilan negara Afrika dll.

Selama menjadi mahasiswa, Ja’far juga aktif di organisasi Kerukunan Keluarga Sulawesi (Nadi KKS), wadah silaturrahim bagi semua perantau asal pulau Sulawesi yang ketika itu hijrah dan tugas belajar di Universitas Kairo.

Tahun 1991, Ja’far memutuskan kembali ke Jakarta dan menemui Bapak Haji Ande Latif, pemilik PT Tiga Utama, travel dan biro umrah dan haji yang tenar di tahun 1980-1990-an.

Tiga Utama menemukan puncak kebesarannya ketika membawa Alm. Presiden RI ke 2 H. M. Soeharto berhaji bersama keluarga dan rombongnnya tahun 1991.

Masa kejayaan Tiga Utama rupanya tidak terlalu lama. Tahun 1993, Tiga Utama dibereidel dan dibekukan oleh Menteri Agama Alm. Munawir Dzadjali karena dianggap melanggar aturan Direktorat Haji Kementerian Agama Indonesia terutama program paket Serupa tapi tak sama ketika itu.

Perusahaan Tiga Utama pun yang pernah memiliki 40-an karyawan dan ratusan petugas di setiap musim haji dari berbagai kalangan profesional. Mulai ulama sejuta umat, artis tersohor, dokter berpengalaman, kalangan pers, dll dibekukan ijinnya. Setahun kemudian Tiga Utama mulai bangkit kembali tapi di tahun 1997 terjadi krisis monoter, berdampak luas hampir di seluruh aspek ekonomi. Tiga Utama pun ikut terkena dampaknya.

Ja’far dan isterinya Hj. Evie Asyeni sekantor di Tiga Utama, merasa kurang kondusif bekerja sekantor isterinya,  Ja’far memilih keluar dan bekerja di perusahaan travel yang juga memiliki ijin umrah dan haji. Nusa Tour adalah perusahaan yang dipilih setelah dipanggil interview plus tawaran gaji Rp300.000 per bulan, kisah Ja’far.

Perusahaan Nusa Tour adalah milik seorang non Muslim, bernama Steve Setiadji. Selama bekerja di Nusa Tour, Ja’far diberi tugas sebagai menajer divisi umrah dan haji. Di mata pemilik travel, Ja’far dinilai sebagai manajer mumpuni dan dianggap berprestasi karena bisa mendatangkan in come dan laba perusahaan.

Salah satu kesan selama kerja di Nusa Tour tutur Ja’far, adalah membuat brosur dan paket haji dan umrah. Ja’far juga memfasilitas kerja sama antara Nusa Tour dengan Tiga Utama, tempat Jafar bekerja sebelumnya. Atas kinerja baiknya, Ja’far pun mendapat hadiah sepeda motor vespa merek Piaggio, yang merupakan motor impian.

Tapi sebelum genap dua tahun bekerja, Nusa Tour terkena masalah keuangan di divisi lain, seperti di tikecting, outbound dan paket tournya. Akibatnya, perusahaan yang tidak bisa beroperasi. Ja’far pun hijrah ke perusahaan Haji Helu Trans milik Ibu Hasmiati Koto asal Sumatera Barat. Masa kerja Ja’far di Helu Trans sebagai manajer divisi umrah dan haji tidak terlalu lama karena sudah bulat keinginannya mendirikan perusahaan umrah dan haji tersendiri.

Pengalaman bekerja di beberapa travel dan biro haji dan umrah milik orang lain, memudahkan inisiatif Ja’far mendirikan perusahaan sendiri dengan modal nekat.

Alkisah, ide awal mendirikan Travel Haji digagas oleh Ja’far berdua sohibnya H. Agus Salim Hussein, teman ketika bekerja di Tiga Utama.

Ja’far mengakui Tiga Utama adalah perusahaan yang sulit dilupakannya karena cikal cinta bersemi dan jodohnya dengan ibu Hj. Evie Asyeni tahun 1992.

Dua Ribu Wisata

Asal-usul pilihan nama perusahaan “Dua Ribu” diambil dari dua angka di tahun pendiriannya. Alasannya, sangat sederhana agar mudah diucapkan dan diingat oleh setiap orang. Adapun kata “Wisata” dipakai karena harus memakai kata bahasa Indonesia.

Ja’far adalah putra keempat dari delapan bersaudara dari pasangan H. Muhammadiah bin Laba (Alm) dan Hj. Siti Aisyah.

H. Muhammadiah adalah mantan Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Watang Pulu dan Imam Masjid Arawa di Uluale, Kecamatan Watang Pulu, Kabupaten Sidrap.

Ja’far menikahi Ibu Evie Asyeni tahun 1992 dan telah dikaruniai 5 anak, 4 putra dan 1 putri. Anak pertama, Muhammad Walied yang kini kuliah semester terakhir di Universitas Al Azhar Kairo, Mesir, sudah mulai turun ke lapangan tiap musim haji membantu Tim Dua Ribu Wisata.

Dua Ribu Wisata (DRW) adalah penyelenggara resmi umrah dan haji, didirikan tahun 2000 dan mendapatkan Ijin dari Kementerian Agama RI untuk Umrah Nomor: D/46. Tahun 2001 dan Haji Nomor: D/237. Tahun 2002. Terdaftar sebagai anggota di Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) Nomor: 56/2010, dan terdaftar sebagai anggota ASITA dan IATA. Saat ini Ja’far aktif sebagai Wakil Sekretaris Jenderal HIMPUH.

Awalnya manajemen DRW diisi oleh sahabat dan keluarga M. Ja’far sebagai sekadar pelengkap formal pendirian perusahaan. Belakangan untuk mengelola Perusahaan secara modern DRW, M. Ja’far menggandeng dua tokoh nasional: Bapak H. Mulia Jaya Said sebagai Presiden Komisaris; Drs. H. Agus Salim Hussein sebagai Komisaris; Mayor Jenderal (Purn) TNI Dr. H. Syamsu Djalal, SH, MH.

Ikhtiar mengelola DRW secara modern dan profesional mulai membuahkan hasil. Terbukti dari tahun ke tahun, jumlah jamaah umrah dan haji DRW terus bertambah dan mendapat kepercayaan dari calon haji berkat kepercayaan dan proaktif pusat-pusat informasi daerah. Tahun 2010 misalnya DRW berhasil memberangkatkan jamaah haji, 325 orang termasuk Komeng, Itang Yonaz dan Irgi. Tahun ini DRW membawa 157 orang, di antaranya Arman Maulana dan Istrinya Dewi Gita dan Bupati Buton Tengah, Sulawesi Tenggara, Dandim Bandung, Sugiyono, dan beberapa anggota polisi, TNI, anggota dewan, pengusaha, dll.

Bagi M. Ja’far mengelola jasa umrah dan haji harus dengan komitmen bulat untuk memberi pelayanan maksimal dan profesional. Begitu pula penawaran program dan paket yang sesuai selera pasar dan kecenderungan calon jamaah. DRW beruntung dikelola oleh orang-orang profesional jebolan penyelenggara umrah dan haji yang pernah top, Tiga Utama seperti H. Agus Salim Hussein, KH. Nurdin Yatim Hussein, termasuk M. Ja’far dan istrinya Evie Asyeni Ja’far. Ditambah KH. Tadjuddin Hasan, Imam Besar Masjid Baitur Rahim Istana Negara RI, AG. Prof. Dr. H. Faried Wadjedy, Lc, MA dan AG. Drs. H. M. Ramli Rette, SQ, Ustadz H. Agus Rahmat Tanjeng, S.Ag, dan dr. H. Dahnial Syaputra C, dr. HJ. Aisyah Dahlan, Hj. Elmida Asma Awiskarni (Endah), SE, H. Hamdani, dll.

Kini, DRW telah memiliki pusat informasi di beberapa kota dan daerah misalnya terutama di kawasan Indonesia Bagian Timur. Komitmen DRW untuk melayani secara baik, profesional dan maksimal terhadap setiap jamaahnya terlihat dengan menggandeng anak-anak muda sebagai Mutawwif (Guide) di Madinah dan Mekkah, Maktab VIP Nomor 112 di Mina dan Padang Arafah.

Kini, ada dua program yang gencar ditawarkan DRW adalah arbain dan non arbain, yakni membawa dan menuntun jamaah dari Jakarta langsung ke Madinah terus ke Mekkah dan berakhir di Jeddah sebelum kembali ke tanah air.

Wujudkan Niat Anda Berhaji Dengan Dua Ribu Wisata 2Alasan dan keunggulan program ini karena Miqat (batas memulai niat umrah atau haji) jika dimulai dari Masjid Bir Ali, telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. Tidak ada ulama yang mempertentangkan. Sedangkan jika dari Indonesia ke Jeddah, masih banyak ulama yang memperdebatkan awal Miqatnya.

Alasan kedua DRW ke Madinah, mengurangi kecapean dalam penerbangan (jetlack), sekaligus penyesuain cuaca dan sekaligus memperdalam manasik (memahami tatacara berumrah dan haji: rukun dan wajibnya).

DRW termasuk penyelenggara haji yang terus berusaha memahami dan menyelami kecenderungan demi memuaskan pelayanan agar jamaah dapat meraih impian mereka, haji mabrur.

Karena itu, DRW telah melengkapi jamaahnya berbagai perlengkapan umrah dan haji yang sangat menolong, misalnya buku panduan lengkap jadwal waktu, nama kegiatan dan keterangan-keterangan yang harus diperhatikan oleh jamaah, buku ini yang mudah dibawa kemana-mana. termasuk paket koper, berisi: baju ihram, paket lengkap, dll.

Untuk fasilitas hotel, DRW telah membooking 6 bulan sebelum musim haji seperti: Hotel Movenpick yang berada di depan dan hanya berbatasan pagar dengan Masjidil Nabawi di Madinah; Apartemen Transit strategis di kawasan Hayyin Nassim, 15 KM dari kota Mekkah dan hotel Fairmont di Mekka dan hotel Rea Sea di Jeddah.

Untuk servis makanan dan minuman, DRW termasuk paling siap. Mulai memilih makanan hotel rasa Far East, menu paling dekat dan cocok lidah orang Indonesia. Di Apartemen Transit tersedia ragam menu makanan asli Indonesia yang diolah oleh koki dari kota Cianjur. Begitu pula di Maktab Mina dan Arafah, menu yang tersedia memang ala Arab tapi kualitas kebersihan dan rasa tetap diterima lidah orang Indonesia yang dominan hobi masakan ikan dan nasi goreng plus ayam gulai.

Transportasi, Tim DRW, jauh hari telah membooking ratusan kursi tiket pesawat Saudi Arabia Airline rute Jakarta-Madinah (pergi) dan pulang dari Jeddah ke Jakarta; Bus-bus modern keluaran terbaru dan memuat 49 seat tiap Bus, full AC dan tempat chashing hape jamaah.

Atribut, Tim DRW telah menyiapkan berbagai atribut warna-warni spanduk dan umbul2 yang dipasang di setiap momen dan lokasi kunjungan, sebagai background dan penanda kesan (impressed) yang menyejarah dan menyenangkan setiap jamaah untuk berfoto dan bervideo ria.

Kesan-kesan dan fenomena menarik yang terdapat di tulisan ini telah dirasakan oleh jamaah Dua Ribu Wisata termasuk penulis.

(Muhammad Saleh)

About The Author

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *